Pages

Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Friday, 11 November 2016

Belajar Dari Tumbuhan


Minggu ini saya bersama Si Bocah membuat proyek menanam biji kacang hijau. Proyek sains sederhana yang dulu kerap saya lakukan dengan anak-anak kelas satu sekolah dasar ketika masih di sekolah. Untuk menunjukkan tentang salah satu cara Tuhan menghijaukan alam ini, juga melatih sebuah kesabaran dan kasih sayang kepada sesama makhluk di bumi.

Ternyata melakukan proyek menanam bersama anak usia 3 tahun sedikit berbeda. Lebih banyak pertanyaan yang terlontar. Harus menyentuh semua peralatannya sekaligus menyebutkan namanya satu per satu. Yang pastinya juga, perlu waktu yang lebih lama dalam proses pelaksanaannya.

Tuesday, 11 October 2016

Tidak Ada Mainan Mulai Hari Ini

Hujan sangat lebat. Suara tawa dan pekik senang terdengar di luar. Si Bocah sedang asyik hujan-hujanan dengan ayahnya. Berlari, menangkap air, juga menari-nari. Sesekali suaranya terdengar memanggil saya hanya sekedar untuk melihatnya beraksi. Terlihat senang meski sedikit kedinginan. Melihatnya nyaman bermain dengan ayahnya, saya pun lega.

Si Ayah sering keluar kota sampai beberapa hari untuk pekerjaannya. Keseharian yang hanya bersama saya, membuat Si Bocah agak sulit berinteraksi dengan ayahnya. Kalaupun bersama, paling lama hanya dua jam kemudian memilih bersama saya kembali. Itupun kerap diselingi dengan perselisihan dan tangisan.

Monday, 3 October 2016

Ayunan di Pohon Sonokeling

‘Wah, ada ayunan!’ sorak Si Bocah selepas turun dari boncengan sepeda motor  sesampainya kami di Rumah Sono Keling - Pati (tempat Si Ayah janjian bertemu dengan teman-temannya). Segera ia berlari menghampiri. Namun, sesaat kemudian berhenti. Terlihat bingung. ‘Kok ayunannya begini ?’
‘Ayunan ini dari ban bekas’, jelas ayahnya sambil duduk di ayunan. ‘Bentuknya beda namun tetap seru lho naik di atasnya.’

Si Bocah masih tampak ragu-ragu. Menolak menaiki. Hanya berdiri di dekatnya. Merabai talinya. Menyentuh tempat duduknya. Untuk beberapa saat dia hanya memegang dan sesekali menggerakkannya.

Saturday, 1 October 2016

Anak Nakal di Acara Mendongeng KPK

Hari Kamis kemarin, bersama teman-teman komunitas KERLAP, Si Bocah mengunjungi IIBF. Berangkat dari Depok pukul 6 pagi. Wuih...lumayan untuk anak usia 3 tahun. Apalagi hujan turun sejak sebelum subuh belum reda. Namun, keriangan akan berjalan-jalan dengan teman-temannya naik bus membawa energi positif di diri Si Bocah sehingga membuat segala persiapan yang saya lakukan lebih mudah.

Perjalanan kami lumayan lama karena macet di beberapa titik sebab ada demo buruh. Namun, secara keseluruhan semua baik-baik saja. Anak-anak yang rata-rata balita ini masih semangat semuanya.

Sesampainya di lokasi, suasana masih sedikit sepi. Rombongan kami disambut panitia. Setelah melakukan sesi bergaya di  foto booth, kami pun duduk di depan panggung dongeng. Terlihat rombongan anak sekolahan juga mulai berdatangan dan duduk bersama di area mendongeng.

Friday, 30 September 2016

Sac à Dos Family : Pasar Senen – Poncol –Ngrombo

Minggu lalu, akhirnya Saya dan Si Bocah menemani Ayah ‘jalan-jalan’ lagi. Perjalanan yang lumayan jauh dan berbeda. Jauh karena kami ke luar kota dan berbeda karena kami bersepakat menggunakan angkutan umum murah sepanjang perjalanan (bukan online juga lho).

Kami bersepakat naik kereta api ekonomi Tawang Jaya sebab sampai di Poncol- Semarang nanti masih pagi, jadi waktunya longgar. Berangkat dari Stasiun Depok Lama kami naik KRL disusul naik bajaj ke Pasar Senen.

Tuesday, 20 September 2016

Selamat Malam, Tidur Nyenyak ya


Saya senang membaca Lima Sekawan karya Enid Blyton sejak kecil. Senang dengan petualangan seru yang dialami oleh 4 saudara dengan anjingnya – Timmy -. Hampir semua sudah saya baca.

Salah satu  yang saya sukai dari buku cerita ini adalah saat mereka berangkat tidur. Ortunya, terutama ibu mereka selalu menemani. Bercerita, mencium, dan mengucapkan selamat tidur. Sederhana ya ? Entah mengapa, saya senang sekali membayangkan senangnya dapat perlakuan seperti itu. Usia saya sd saat itu dan jarang diantar tidur oleh Ibu apalagi mendapat ciuman.

Ibu, seorang guru sekolah dasar, dengan lima anak yang masih kecil-kecil. Ibu adalah seorang pekerja keras. Guru sekolah dasar zaman dulu tentu berbeda dengan guru sekolah dasar zaman sekarang. Terutama masalah finansial. Sepulang dari mengajar, Ibu masih harus repot dengan segala tetek bengek kegiatan domestik. Selepas maghrib pun, beliau masih berkutat dengan kacang hijau yang akan dibuat es lilin.

Tuesday, 13 September 2016

Sac à Dos Family

‘Ke Pati ? Ke rumah siapa ?’ tanya Si Bocah heran ketika kami memberitahu bahwa akhir minggu ini akan keluar kota lagi bersama-sama. Ayahnya menjelaskan bahwa harus mengunjungi teman di sana. Si Bocah mengangguk-angguk. ‘Nanti, aku juga akan bertemu teman baru lagi?’ Saya mengiyakan.
‘Naik apa?’
‘Kita naik KRL lalu naik kereta api ke Semarang disusul naik bus.’
‘Kita naik bajaj dulu baru naik kereta api tut tut tuuuut. Bunda lupa ya?’, potong Si Bocah. 

Wednesday, 31 August 2016

Tumbuh dan Nikmatilah, Tak Perlu Tergesa-gesa


Pagi ini saya membaca beberapa informasi menarik berkenaan dengan kegiatan anak-anak. Hm...ingin sekali ikut. Ada yang mengasah motorik kasar, kunjungan ke sebuah tempat, ikut klub, sampai ikut festival.

Ingin sekali bisa bergabung. Sayang usia minimal adalah 4 tahun dan Si Bocah masih 3 tahunan.
Meski sebenarnya secara kasat mata, Si Bocah ‘pantas’ menjadi anak usia 4 tahun. Postur fisik, kamampuan berbahasa, dan pemahamannya akan sebuah peraturan cukup bagus. Berbaur dengan anak-anak usia 4 tahunan tidak akan terlihat mencolok perbedaannya. Hehehehe...godaan sekali.

Wednesday, 24 August 2016

Terinspirasi Bukan Terintimidasi



Selamat pagi matahariku! Teriakan keras Si Bocah selepas bangun dan keluar dari tenda. Hujan semalam hanya menyisakan tetesan air di rumput. Langit biru meski matahari belum bersinar penuh. Hari kedua kami berkemah di Kampung Komunitas Salatiga.
Si Bocah sudah merengek minta berenang. Wuih...pukul 6 pagi ! Jelas Si Ayahn bimbang namun saya berhasil menyakinkan kalau airnya masih hangat. Jadilah pagi-pagi itu, saat banyak keluarga sudah rapi dan duduk makan pagi, kami masih njebeber bersama menemani Si Bocah.

Monday, 22 August 2016

Berkemah

Sejak melihat Barney edisi camping, keinginan berkemah Si Bocah muncul. Ingin melihat bintang dan tidur di tenda, katanya. Beberapa kali, dinosaurus baik yang sedang berkemah bersama teman-temannya itu dilihatnya. Sampai hafal apa hampir setiap adegan yang ada.
Ayahnya berencana membelikan tenda kecil dan berkemah di halaman saja. Nanti kalau hujan atau kondisi tidak memungkinkan, tinggal dipindah ke dalam rumah. Saya masih berpikir dan menimbang kapan dan bagaimana enaknya model berkemahnya sebab Si Bocah juga masih 3 tahun.
Kebetulan seorang teman komunitas memberikan info acara berkemah bersama Ibu Septi di Salatiga. Membaca rangkaian kegiatannya, saya suka. Huhuhuhu, menarik sekali. Bisa belajar hal lain tentang pengasuhan anak sekaligus bertemu dengan para ortu hebat yang memutuskan anaknya sekolah di rumah sekaligus (ini yang penting) memberi pengalaman Si Bocah berkemah – sesuatu yang diinginkan beberapa waktu ini - .

Friday, 19 August 2016

Cangkang Telur, Baking Soda dan Cuka

Pagi tadi, di dinding facebook saya ada postingan tentang percobaan sederhana yang bisa dilakukan anak usia 2-3 tahun menggunakan hanya baking soda dan cuka. Judulnya apple volcano experiment. Hm...menarik.
Saya tengok kedua bahan yang dibutuhkan ada meski tidak banyak di dapur. Untuk buah apel yang digunakan sebagai gunungnya, saya ganti dengan botol yakult bekas (karena apel lebih enak dijus hehehehe).
Si bocah cukup antusias mencoba ketika saya perlihatkan gambarnya di sini.

Friday, 12 August 2016

Ikut Ayah ke Situ Jatijajar

Salah satu kesepakatan kami sebagai ortu adalah  ada satu hari penuh ayah bersama dengan Si Bocah dalam seminggu. Bersama dalam artian sebenarnya. Bermain bebas, tidak ada gawai atau komputer atau printilan pekerjaan lainnya. Biasanya itu terjadi hari minggu. Seharian mereka akan melakukan apapun yang disukai sambil tertawa meski tak jarang diselingi rengekan atau tangisan Si Bocah karena diisengin ayahnya.
Tetapi ada saat-saat meski hari minggu, Ayah harus pergi. Bila aktivitasnya keluar kota, Si Bocah bersama saya di rumah. Namun, bila kegiatannnya memungkinkan mengajak Si Bocah, sering kami pergi bersama-sama.
Seperti beberapa saat yang lalu. Hari Minggu kami isi dengan berkunjung ke rumah seorang teman Ayah di daerah Situ Jatijajar. Menyenangkan. Menemukan tempat kami belajar dan menjelajah. Sebab, sekolah terbaik menurut kami adalah alam semesta dan isinya yang tidak dibatasi oleh dinding-dinding. Selain itu melihat Kota Depok dari sudut berbeda. Dengan aneka pohon dan keteduhannya. Kota ini memiliki banyak situ (danau) namun sayang banyak yang kurang terawat.

Sunday, 7 August 2016

Portofolio Si Bocah Bermain Warna (Balita)

Bila anak-anak belajar di institusi formal seperti sekolah, ketika ingin mengetahui perkembangannya, kita bisa memantau melalui anekdot yang disampaikan gurunya setiap 3 bulan sekali. Kemajuan atau kekurangan anak bisa terlihat melalui pengamatan gurunya saat mereka di sekolah. Kita tinggal mendengar dan mencocokannya dengan perilaku anak - anak di rumah. Bersama-sama mencari solusi bila diperlukan. 
Nah, persoalannya bagaimana untuk yang belajar di rumah ? Siapa yang membuat anekdot ? Ortu ? Yaiyalah, mau siapa lagi masak tetangga hehehehe.

Sulit dong ? Bisa dibilang sulit kalau kita menilainya melalui pengamatan biasa saja. Salah satu kesulitan yang sering dialami praktisi pendidikan rumah adalah melihat perkembangan anak secara jernih dari waktu ke waktu. Interaksi  24 jam sehari dalam satu minggu, membuat kita kerap kurang menyadari akan kemajuan apa yang telah dicapainya. Menganggap semua biasa – biasa saja, nothing special. 

Wednesday, 3 August 2016

Bertanya dan Percayailah Anak Kita

Sebuah cerita teman yang ‘menghukum’ anaknya sebab malas ke sekolah dengan beralasan sakit membuat saya termenung. Apalagi kemudian si teman tetap keukeuh berpendapat anaknya harus pergi ke sekolah meski menangis. Bagi ibunya, ke sekolah lebih penting dan menyenangkan daripada anaknya ngendon  di rumah.

Hm... benarkah ?

Monday, 1 August 2016

Hadiah Puzzle dari Budhe Inez

‘Mulainya dari Alligator ya, Ayah’, jelas Si Bocah sambil mencari puzzle-nya.’Nah, ini lalu Bear. Lalu apa ya, aku lupa hehehehe’, katanya sambil garuk-garuk kepala.

Si Bocah sedang sibuk menyusun puzzle dengan ayahnya. Puzzle huruf hadiah dari Budhe Inez beberapa saat yang lalu. Belum pernah bertemu namun sangat perhatian dengan Si Bocah sejak dia lahir. Budhe yang hanya dikenal dari namanya saja.

Sekarang, Si Bocah sudah 3,5 tahun. Ketika mendapat hadiah puzzle ini, dia penasaran sekali. ‘Itu apa’, tanyanya. ‘Puzzle’, jawab ayahnya saat itu. Kemudian mereka pun membuka kotak puzzle. Dengan cukup sabar, ayahnya menjelaskan mulai dari cara membuka kotak sampai bagaimana cara bermain.

Monday, 25 July 2016

One by One di Lebaran Pertama Si Bocah

dari sini
‘Hari ini kita berkunjung ke rumah gurunya Bunda, ya?’ tanya saya disambut anggukan kecil Si Bocah. ‘Kalau di sana, mengambil kuenya…?’

‘One by one’, jawabnya mantab. Saya pun tersenyum dan mengajaknya tos. Kesepakatan kecil yang selalu saya lakukan sebelum berangkat ke suatu tempat (terutama berkunjung ke rumah seseorang) sejak usianya genap 3 tahun dan mulai mengerti aturan sederhana.

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama kalinya Si Bocah berkunjung ke rumah orang lain dengan aturan one by one. Mengambil kue atau makanan apapun itu satu per satu. Satu dihabiskan dulu, baru mengambil lagi. Tidak langsung mengambil banyak dalam satu genggaman apalagi pakai di masukkan ke dalam kantong baju segala hehehe.

Thursday, 23 June 2016

Biarlah Anak-anak Memiliki Imajinasinya Sendiri

Pensil warna siap. Daun kering siap. Lem ada. Buku gambar juga sudah tersedia. Sekarang saatnya bersenang-senang, yeay! Si Bocah pun dengan sigap membuka halaman buku gambar. Saat itu agenda berkegiatannya adalah berkreasi dengan daun kering. Ditempel sekaligus diberi gambar agar menarik.

dari sini
Saya  sempat mencari referensi di internet tentang kegiatan ini. Melihat contohnya, pasti kita semua sepakat kalau itu bagus sekali.  Kreatif dan lucu-lucu bukan?
dari sini
Jujur, saya pribadi kalau untuk berkegiatan atau bahkan berimajinasi seperti ini hanya bisa melambaikan tangan sambil cepat-cepat menghindar. Nyerah dengan kegiatan yang artsy seperti ini hehehehe (meski saya suka melihat pameran seni rupa lho).

Wednesday, 22 June 2016

Berjejaring, Silaturahmi ala Ortu Homeschooling

Hari Sabtu minggu yang lalu, bersama Si Bocah saya mengikuti acara komunitas Kerlap berbagi ilmu parenting dan buka puasa bersama. Acaranya menarik. Mbak Wanda dan Mbak Eka yang merupakan founder komunitas menceritakan pengalamannya mengikuti Bincang Seru Homeschooling (Binser HS) beberapa waktu yang lalu, serta Paman Ian yang juga berbagi pengetahuan dari hasil ikut kegiatan kampung komunitas Ibu Septi di Salatiga.

Ini kali pertama saya ikut kegiatan komunitas selain playdate. Itu pun saya bicarakan dulu dengan Si Bocah apakah mau datang atau tidak. Kalau menuruti saya pribadi, jelas ingin bergabung sebab selain akan banyak masukan menarik tentang pola pengasuhan anak, juga ingin berkenalan dengan para praktisi pendidikan rumah yang lain. Namun, yang berkegiatan kan bukan hanya saya, Si Bocah juga. Syukurnya, gayung keinginan saya bersambut, Si Bocah setuju datang ke acara tersebut. Yes! Mari kita berjejaring.

Monday, 20 June 2016

Bebas Menggambar Dengan Senang

Lingkaran kecil, lingkarang kecil, lingkaran besar
Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar
Diberi telinga, diberi telinga, lalu tertawa
Enam, enam, tiga puluh enam
Enam, enam, diberi sudut

Yeay! Teriak Si Bocah di akhir lagu. Biasanya, kami mengulang lagunya sambil menggambar lagi beberapa kali. Setelah itu, Si Bocah akan dengan asyik menghapus hasilnya sambil tertawa. Bila semuanya terhapus, minta dibuatkan kembali.

Ketika itu, kami masih rumah kakek neneknya Si Bocah. Kondisi lingkungan yang masih alami memungkinkan kami menggambar di tanah memakai ranting kayu. Si Bocah pun belum tertarik memegang alat tulis dan lebih menyukai gambar-gambar besar yang bisa dia hapus dengan kakinya saat itu.

Friday, 17 June 2016

Dua Luka di Jari Pagi ini

Di lantai bawah terdengar suara riang tawa Si Bocah diselingi obrolan ringan dengan ayahnya. Terdengar asyik. “Gantian aku yang aduk ya ?” Tanya Si Bocah disusul suara tawa. “Adonannya jadi coklat semua, Ayah. Lihat!” Ayahnya mengiyakan.

Pagi itu mereka sepakat membuat pancake bersama. Mulai dari menyiapkan bahan sampai membuat adonan. Si Bocah suka sekali makan pancake. Dia ingin membuatnya bersama ayahnya kali ini, bukan bersama bunda. Kenapa ? tanya saya. “Karena Ayah di rumah hari ini, ga kerja.”