Pages

Showing posts with label belajar. Show all posts
Showing posts with label belajar. Show all posts

Friday, 11 November 2016

Belajar Dari Tumbuhan


Minggu ini saya bersama Si Bocah membuat proyek menanam biji kacang hijau. Proyek sains sederhana yang dulu kerap saya lakukan dengan anak-anak kelas satu sekolah dasar ketika masih di sekolah. Untuk menunjukkan tentang salah satu cara Tuhan menghijaukan alam ini, juga melatih sebuah kesabaran dan kasih sayang kepada sesama makhluk di bumi.

Ternyata melakukan proyek menanam bersama anak usia 3 tahun sedikit berbeda. Lebih banyak pertanyaan yang terlontar. Harus menyentuh semua peralatannya sekaligus menyebutkan namanya satu per satu. Yang pastinya juga, perlu waktu yang lebih lama dalam proses pelaksanaannya.

Monday, 25 July 2016

One by One di Lebaran Pertama Si Bocah

dari sini
‘Hari ini kita berkunjung ke rumah gurunya Bunda, ya?’ tanya saya disambut anggukan kecil Si Bocah. ‘Kalau di sana, mengambil kuenya…?’

‘One by one’, jawabnya mantab. Saya pun tersenyum dan mengajaknya tos. Kesepakatan kecil yang selalu saya lakukan sebelum berangkat ke suatu tempat (terutama berkunjung ke rumah seseorang) sejak usianya genap 3 tahun dan mulai mengerti aturan sederhana.

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama kalinya Si Bocah berkunjung ke rumah orang lain dengan aturan one by one. Mengambil kue atau makanan apapun itu satu per satu. Satu dihabiskan dulu, baru mengambil lagi. Tidak langsung mengambil banyak dalam satu genggaman apalagi pakai di masukkan ke dalam kantong baju segala hehehe.

Friday, 17 June 2016

Dua Luka di Jari Pagi ini

Di lantai bawah terdengar suara riang tawa Si Bocah diselingi obrolan ringan dengan ayahnya. Terdengar asyik. “Gantian aku yang aduk ya ?” Tanya Si Bocah disusul suara tawa. “Adonannya jadi coklat semua, Ayah. Lihat!” Ayahnya mengiyakan.

Pagi itu mereka sepakat membuat pancake bersama. Mulai dari menyiapkan bahan sampai membuat adonan. Si Bocah suka sekali makan pancake. Dia ingin membuatnya bersama ayahnya kali ini, bukan bersama bunda. Kenapa ? tanya saya. “Karena Ayah di rumah hari ini, ga kerja.”

Thursday, 21 April 2016

Perasaan Aman Bukan Rasa Takut, Ibu

Hujan sangat lebat. Petir menyambar sambung menyambung dengan suara menggelegar. Kulihat Si Bocah cukup tenang. Hanya sesekali melihat ke arah saya lalu kembali meneruskan aktivitas mengguntingnya. Tidak terganggu dengan suara ribut di luar. Saya pun merasa lega.

Dulu, saat hujan dan petir datang, Si Bocah pasti lari mencari saya sambil menutup telinganya minta dipeluk. Kilatan cahaya disusul suara keras bersahut-sahutan membuatnya tidak nyaman dan ketakutan. Saya sendiri ketika baru mendengar petir dan guntur keras sekali juga di kota ini. Awalnya, saya pun merasa tak nyaman. Namun, melihat kondisi Si Bocah yang ketakutan, mau tidak mau saya tepis rasa takut untuk menenangkannya.

Wednesday, 28 March 2012

Ketika Kakak dan Adik Bekerja Sama

ceria dan senang sekaligus belajar
“Let’s make yells! One…two…three !”
“Karate is the best ! Karate is the winner, yeahhh!” teriak serentak anak-anak di depan saya mengikuti aba-aba ketua kelompoknya sambil mengepalkan tangan ke udara.

Begitu semangat. Meski beberapa anak masih terlihat malu-malu. Anak-anak kelas satu. Maklum, mereka baru pertama kali mengikuti acara lomba berkelompok dengan kakak kelas. Masih menyesuaikan diri. Masih kikuk.

Namun begitu, salut saya dengan sikap menjaga dan ngemongnya anak-anak kelas 2 dan 3. Mengerti adik-adik kelas 1 yang masih asing dengan aneka kasus yang harus dipecahkan secara berkelompok satu per satu. Mereka dengan sabar memberi tahu dan menunjukkan caranya. Adik kelas 1 pun mengikuti apapun kata-kata ‘seniornya’.

Friday, 2 March 2012

Tentang Televisi (Lagi), Mama

semua hal adalah belajar
Kepanjangan Dari KTP adalah …K…T…P. Dengan yakin dan percaya diri seorang murid saya menjawab pertanyaan saya setelah mengangkat tangan dan dipersilahkan berbicara. Saat itu kami sedang tebak jawab bersama. Untuk 2 detik, suasana sempat senyap. Saya terdiam. Teman-teman yang lain melongo. Kemudian meledaklah tawa berderai dari segala penjuru. Murid saya yang menjawab tadi terlihat bingung. “Benar kan, Bu ?”

Untungnya meski tertawa, teman-temanya adalah anak-anak yang menyenangkan. Mereka bukan mentertawakan kesalahan yang dibuat temannya. Tidak mengolok. Lebih kepada menanggapi ekspresi serius dan bersemangatnya murid yang menjawab. Memang, murid saya tadi menjawabnya dengan sungguh-sungguh.

Seorang temannya mengatakan kalau bukan itu kepanjangannya. Kepanjangan KTP adalah Kartu Tanda Penduduk. Alih-alih mengangguk, murid saya yang menjawab pertama kali tadi protes.

“Bu, saya pernah melihat di televisi kalau kepanjangan itu artinya kalau diucapkan dipanjang-panjangkan.”

Nah lho ! Bagaimana ini ?

Wednesday, 15 February 2012

Kok Kita Tak Belajar,Bu ?

belajar (seperti) tak belajar
Pertanyaan itu terlontar dari seorang murid usai saya mengakhiri aktivitas bersama di kelas. Saat itu saya mengajar sains. Kebetulan tak ada aktivitas tulis menulis saat itu. Hanya berdiskusi dan mendengarkan sebuah cerita. Sebuah cerita tentang penemu salah satu sumber bunyi yang telah dikenal anak-anak. Alexander Graham Bell si penemu telefon.

Tidak belajar ? Si penanya mengangguk. Kita tidak menulis sama sekali, hanya mendengarkan cerita dan berdiskusi. Berarti tidak belajar kan bu, jelasnya.

Friday, 27 January 2012

Keliru ? Tak Bisa ? Tak Juara ? Tidak Apa-apa Nak…

berinisiatif dalam kelompok
“Bu, ini jawabannya benar tidak ?” tanya seorang murid ketika ia baru saja menyelesaikan soal nomor satu. Saya mengangguk membenarkan. Tak lama berselang, dia menghampiri lagi dan bertanya apakah jawaban selanjutnya benar. Saya mempersilahkan untuk menyelesaikan dulu tugasnya. Tapi dia tak beranjak. Sedikit mendesak untuk mengetahui jawaban keduanya benar atau tidak. Saya pun menjawab akan dikoreksi saat semua nomor telah dikerjakan. Tak perlu takut keliru, bila memang telah sungguh-sungguh mengerjakan. Percaya kepada kemampuannya. “Jadi boleh kalau nanti ada yang salah ?” Saya mengangguk. Baru murid saya kembali ke bangkunya.

Di lain waktu, seorang murid mengatakan tidak jadi ikut lomba. Takut tak menang katanya. “Lho? Belum dicoba kok sudah tahu kalau tak juara ?” tanya saya. “Iya,bu. Soalnya kakak bilang aku tak mungkin menang, lawannya hebat-hebat.” Hm…

Pada saat-saat tertentu di kelas, saya meminta anak-anak menyelesaikan sesuatu secara berkelompok dan tanpa saya memberikan petunjuk. Mereka bebas memilih cara penyelesaiannya asalkan semua teman setuju dan rukun. Sesuatu itu kadang berupa kasus berhitung, memutuskan nama kelompok, menyusun puzzle, atau membagi benda secara merata.

Monday, 23 January 2012

Belajar yang Menyenangkan, Belajar dengan Senang #2 – Bermain Melatih Kepekaan

“Dar der dor ! Nguing nguing nguing ! Perhatian ! Ada musuh di depan. Ayo kita tembak. Posisi siaga. Jangan sampai kalah ! Dor dor dor ! Argh …!”

Itulah sebagian dialog yang biasa murid laki-laki katakan ketika mereka sedang bermain di kelas.

Di sekolah, untuk murid kelas 1 dan kelas 2 memang beristirahat dan bermain di dalam kelas, tidak di luar. Saat-saat bermain dan beristirahat adalah saat-saat rawan terjadi konflik dan kecelakaan, maka guru kelas kecil harus ada di kelas untuk mengawasi. Selain juga mengarahkan ketika permainan yang dilakukan membahayakan baik untuk dirinya maupun teman yang lain sebab anak-anak di usia perkembangan ini, masih memerlukan pendampingan dalam memaknai sebuah permainan.

Saya menikmati sekali melihat saat-saat mereka bermain. Melakukan sesuatu yang disenangi bersama teman-temannya tanpa beban. Terlihat ceria dan gembira.

Wednesday, 18 January 2012

Belajar yang Menyenangkan, Belajar dengan Senang #1 – Role Play

bermain peran
melatih kosakata sekaligus sikap 

“Bu Erna, hari ini kita akan Laundry House lagi ?” pertanyaan itu datang tadi pagi dari seorang murid. Saya mengangguk. Anak-anak pun segera berkerumun dan bercerita dengan serunya di meja saya. Bercerita kalau sudah hafal apa yang harus dikatakan sebab tadi malam telah latihan dengan mama. Maka, pamerlah mereka.

“Good morning, may I help you ?”

“Good morning. Yes, I want to laundry my clothes”.

“This is one shirt, one hat, one…mmm….aduh apa ya, lupa!”

Tawa berderai muncul dari yang mendengar. Saya juga tertawa. Wah, laundry house-nya nanti pasti seru. Sudah terbayang gaya mereka nanti. Pasti ada saja uniknya.

Murid-murid memang sedang persiapan belajar bahasa inggris. Guru bahasa inggrisnya dengan kreatif memadukan pengayaan kosakata dengan bermain peran. Kebetulan kosakata yang sedang dipelajari adalah tentang pakaian.

Wednesday, 11 January 2012

Mes Profs, Mes Élèves - Guruku adalah Muridku #2

Memiliki murid dengan beragam sifatnya di titik tertentu pasti merepotkan. Apalagi saat pembelajaran. Diperlukan strategi tersendiri  sebab bila tidak memiliki cara yang pas, bisa-bisa kita akan time’s  down duluan (meniru ucapan seorang murid yang senang sekali mengatakan kata ini). Nah, saat-saat mencari strategi inilah saat-saat merepotkan menurut saya. Seperti besok mau ujian rasanya.

Jadi sebenarnya, siapa guru dan siapa muridnya ?

Yups, benar sekali. Saya sepakat bila jawabannya tidak perlu diperdebatkan hehehehe. Kata Gus Dur ‘Gitu aja kok repot’. Yang penting, semuanya, baik guru maupun murid adalah tak lelah untuk selalu belajar, belajar, dan belajar.

berkompetisi dengan jujur itu penting
Tadi di kelas, saya mencoba strategi baru dengan murid-murid. Menumbuhkan jiwa berkompetensi sekaligus kesabaran dan toleransi. Waduw… rumit sekali ya ?

Tuesday, 10 January 2012

Mes Profs, Mes Élèves - Guruku adalah Muridku #1

ekspresi unik berbeda
Menjadi guru di sekolah dasar memberikan kesempatan saya untuk belajar banyak hal tentang hidup dari anak-anak. Banyak hal. Kesabaran, kreativitas, percaya diri, berani bercerita, seni tersenyum(hehehehe yang ini jujur masih susah sekali), memberi perhatian, belajar kembali untuk konsisten, bernyanyi, membaca, berhitung, belajar menyulam (meski masih juga berantakan), memasak, dan berbicara dengan benar (penting nih agar anak-anak pun terbiasa dengan bahasa yang benar, tidak bahasa slank atau prokem saja).Terkesan saya berlebihan ya ?

Mungkin iya mungkin juga tidak. Menengok sebentar ke belakang, latar belakang pendidikan saya memang digagas menjadi guru. Tetapi guru anak-anak di usia remaja sebab bahasa asing (kecuali inggris biasanya) tak diajarkan di sekolah dasar. Namun entahlah, dulu setiap ada pembelajaran selain bahasa dan budaya napoleon, tak pernah saya perhatikan. Jangankan tertarik, melirik saja tidak hehehehe. Menjadi guru belum terlintas saat itu. Yang terpikirkan adalah menjadi penterjemah. Selain penterjemah tidak hohohoho. Keren kan ?


Tetapi anak-anak dengan keajaibannya membuka ketertarikan saya dengan dunia mereka.