Pages

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Saturday, 10 December 2016

Petualangan 18 Hari (part 2)

Jogja! Jogja! Akhirnya ke kota ini kembali. Senang rasanya. Kami menginap di daerah Pakualaman. Suasana akrab menyenangkan. Sebenarnya waktu check-in masih satu jam lagi namun karena kebetulan kamarnya kosong, maka kami dipersilahkan masuk. Lumayan bisa selonjoran sebentar. Ini nih yang saya suka kalau bepergian tidak di saat-saat libur, selain harga-harga lebih murah juga tidak penuh orang saat mau kemana-mana. Kita tetap homeschooling saja ya, Nak (hehehehe).

Berdasarkan kesepakatan bersama, saat Ayah kerja, saya dan Si Bocah akan bermain berdua. Si Bocah menolak. Ingin langsung bermain bersama ayahnya. Apalagi ketika tahu ada kolam renang. Merengek minta berenang.

Wednesday, 16 November 2016

Tak Ada Balok, Kardus pun Jadi

‘Nda, aku ingin bermain seperti Baby Bop’, kata Si Bocah pagi ini sambil mengulurkan buku yang dipegangnya (Baby Bop adalah salah satu tokoh favoritnya di serial Barney).

‘Bermain apa itu ?’

‘Ini menyusun balok. Kapan-kapan kita beli yuk Nda, balok yang banyak’.

Mendengar permintaannya, alih-alih mengiyakan, saya memintanya untuk memperhatikan balok yang disusun Baby Bop. Menanyakan apa bentuknya. Apakah bisa baloknya diganti dengan kardus. Ketika Si Bocah mengatakan bisa, maka kami pun bersepakat memakai kardus. Ada cukup banyak kardus tidak terpakai berbagai ukuran.

Tuesday, 15 November 2016

Membiasakan Menyayangi


‘Nda, duri dan kepala ikannya nanti buat kucing ya?’ tanya Si Bocah sambil menyisihkan duri-duri ke pinggir piringnya. ‘Nanti aku saja yang memberikan karena Bunda takut kucing’. Obrolan sederhana pagi itu ketika sarapan.

Usai makan, Si Bocah membawa duri dan kepala ikan ke belakang. Kebetulan ada kucing yang baru melahirkan di belakang. Saya hanya memperhatikan dari jauh. Benar memang saya tidak suka dan nyaris bisa dibilang takut kucing. Selalu menghindar kalau ada binatang ini.

Hal itu ternyata tertangkap di pemahaman Si Bocah. Pernah ketika ada kucing, Si Bocah sampai mengambil sapu dan berniat memukul si kucing. Ketika ditanya mengapa, jawabannya adalah agar kucingnya pergi dan bunda tidak takut lagi.

Friday, 11 November 2016

Belajar Dari Tumbuhan


Minggu ini saya bersama Si Bocah membuat proyek menanam biji kacang hijau. Proyek sains sederhana yang dulu kerap saya lakukan dengan anak-anak kelas satu sekolah dasar ketika masih di sekolah. Untuk menunjukkan tentang salah satu cara Tuhan menghijaukan alam ini, juga melatih sebuah kesabaran dan kasih sayang kepada sesama makhluk di bumi.

Ternyata melakukan proyek menanam bersama anak usia 3 tahun sedikit berbeda. Lebih banyak pertanyaan yang terlontar. Harus menyentuh semua peralatannya sekaligus menyebutkan namanya satu per satu. Yang pastinya juga, perlu waktu yang lebih lama dalam proses pelaksanaannya.

Tuesday, 11 October 2016

Tidak Ada Mainan Mulai Hari Ini

Hujan sangat lebat. Suara tawa dan pekik senang terdengar di luar. Si Bocah sedang asyik hujan-hujanan dengan ayahnya. Berlari, menangkap air, juga menari-nari. Sesekali suaranya terdengar memanggil saya hanya sekedar untuk melihatnya beraksi. Terlihat senang meski sedikit kedinginan. Melihatnya nyaman bermain dengan ayahnya, saya pun lega.

Si Ayah sering keluar kota sampai beberapa hari untuk pekerjaannya. Keseharian yang hanya bersama saya, membuat Si Bocah agak sulit berinteraksi dengan ayahnya. Kalaupun bersama, paling lama hanya dua jam kemudian memilih bersama saya kembali. Itupun kerap diselingi dengan perselisihan dan tangisan.

Monday, 3 October 2016

Ayunan di Pohon Sonokeling

‘Wah, ada ayunan!’ sorak Si Bocah selepas turun dari boncengan sepeda motor  sesampainya kami di Rumah Sono Keling - Pati (tempat Si Ayah janjian bertemu dengan teman-temannya). Segera ia berlari menghampiri. Namun, sesaat kemudian berhenti. Terlihat bingung. ‘Kok ayunannya begini ?’
‘Ayunan ini dari ban bekas’, jelas ayahnya sambil duduk di ayunan. ‘Bentuknya beda namun tetap seru lho naik di atasnya.’

Si Bocah masih tampak ragu-ragu. Menolak menaiki. Hanya berdiri di dekatnya. Merabai talinya. Menyentuh tempat duduknya. Untuk beberapa saat dia hanya memegang dan sesekali menggerakkannya.

Saturday, 1 October 2016

Anak Nakal di Acara Mendongeng KPK

Hari Kamis kemarin, bersama teman-teman komunitas KERLAP, Si Bocah mengunjungi IIBF. Berangkat dari Depok pukul 6 pagi. Wuih...lumayan untuk anak usia 3 tahun. Apalagi hujan turun sejak sebelum subuh belum reda. Namun, keriangan akan berjalan-jalan dengan teman-temannya naik bus membawa energi positif di diri Si Bocah sehingga membuat segala persiapan yang saya lakukan lebih mudah.

Perjalanan kami lumayan lama karena macet di beberapa titik sebab ada demo buruh. Namun, secara keseluruhan semua baik-baik saja. Anak-anak yang rata-rata balita ini masih semangat semuanya.

Sesampainya di lokasi, suasana masih sedikit sepi. Rombongan kami disambut panitia. Setelah melakukan sesi bergaya di  foto booth, kami pun duduk di depan panggung dongeng. Terlihat rombongan anak sekolahan juga mulai berdatangan dan duduk bersama di area mendongeng.

Friday, 30 September 2016

Sac à Dos Family : Pasar Senen – Poncol –Ngrombo

Minggu lalu, akhirnya Saya dan Si Bocah menemani Ayah ‘jalan-jalan’ lagi. Perjalanan yang lumayan jauh dan berbeda. Jauh karena kami ke luar kota dan berbeda karena kami bersepakat menggunakan angkutan umum murah sepanjang perjalanan (bukan online juga lho).

Kami bersepakat naik kereta api ekonomi Tawang Jaya sebab sampai di Poncol- Semarang nanti masih pagi, jadi waktunya longgar. Berangkat dari Stasiun Depok Lama kami naik KRL disusul naik bajaj ke Pasar Senen.

Friday, 23 September 2016

Mager ? Jangan dong

Sekali-kali mengunakan bahasa yang dipakai anak muda agar kekinian hehehehe. Awalnya dengar kata mager ini dari Si Ayah. Kok tumben juga, biasanya Ayah termasuk orang yang agak rewel masalah EYD hihihi. Dengar kedua kalinya, saat sedang nemani mencari baju Si Ayah juga. Kebetulan toko yang menjual baju memutar radio anak muda yang lumayan lucu penyiarnya. Di sana mereka juga melontarkan istilah mager. Baru ngeh kalau mager itu artinya malas gerak. Owalah.

Di awal saya menulis kalau sebisa mungkin kita tidak mager. Apalagi buat ibu-ibu yang mempunyai anak balita. Harus gesit dan lincah seperti bola bekel. Jangan kalah dengan irama anak-anak yang energinya luar biasa itu. Hitung-hitung olahraga hehehehe.

Thursday, 22 September 2016

Si Bocah Pembaca Pictogram

membaca gambar
‘Ini gambarnya apa ? Ceritakan ya, Ayah’, kata Si Bocah sambil membawa kemasan sabun yang baru saja dibeli. Ayahnya pun memangku Si Bocah dan menjelaskan gambar yang ditanyakan. Pertanyaan yang sering dilontarkan sejak menginjak usia 3 tahun lima bulan yang lalu.
Setiap melihat kemasan sesuatu entah sabun, bungkus makanan, deterjen, plastik beras atau apapun, Si Bocah akan melihat bagian belakangnya dan kemudian meminta diceritakan tentang maksud gambar yang ada.

Tuesday, 20 September 2016

Selamat Malam, Tidur Nyenyak ya


Saya senang membaca Lima Sekawan karya Enid Blyton sejak kecil. Senang dengan petualangan seru yang dialami oleh 4 saudara dengan anjingnya – Timmy -. Hampir semua sudah saya baca.

Salah satu  yang saya sukai dari buku cerita ini adalah saat mereka berangkat tidur. Ortunya, terutama ibu mereka selalu menemani. Bercerita, mencium, dan mengucapkan selamat tidur. Sederhana ya ? Entah mengapa, saya senang sekali membayangkan senangnya dapat perlakuan seperti itu. Usia saya sd saat itu dan jarang diantar tidur oleh Ibu apalagi mendapat ciuman.

Ibu, seorang guru sekolah dasar, dengan lima anak yang masih kecil-kecil. Ibu adalah seorang pekerja keras. Guru sekolah dasar zaman dulu tentu berbeda dengan guru sekolah dasar zaman sekarang. Terutama masalah finansial. Sepulang dari mengajar, Ibu masih harus repot dengan segala tetek bengek kegiatan domestik. Selepas maghrib pun, beliau masih berkutat dengan kacang hijau yang akan dibuat es lilin.

Monday, 19 September 2016

Bermain Daun Waru (Hibiscus tiliaceus )


Beberapa waktu yang lalu, Si Bocah berada di rumah kakek neneknya. Sebuah pertanyaannya ketika sedang menunggui menggoreng kerupuk, mengusik saya.
‘Nda, minyak itu seperti air tapi kok beda ya ?’
‘Beda bagaimana?’
‘Hm...apa ya?’ Si Bocah bingung sambil garuk-garuk kepala. Ketika saya mengatakan lebih kental dan licin ditangan, dia bertanya apa maksudnya. Saya memintanya mengulurkan tangan dan meneteskan beberapa tetes minyak.

Thursday, 15 September 2016

Saya, Si 3 Tahun

‘Bukan Mbak, Nda. Budhe. Bukan Ibu, tapi Yangti. Bukan Bapak, tapi Yangkung. Bukan Obi, tapi Ayah Obi.’ Protes Si Bocah hampir satu bulan terakhir ini. Mengkritisi bagaimana kami memanggil orang-orang di sekitar. Harus sama dengan caranya  memanggil.  Bila ada yang tidak sesuai, harus dibenarkan segera.
Kalau tidak ? Kalau tidak, Si Bocah akan terus meminta kita membenarkan panggilan yang diucapkan sesuai dengan yang dimintanya. Ngintili kemana pun kita pergi sambil meminta mengoreksi panggilan yang ada.

Tuesday, 13 September 2016

Sac à Dos Family

‘Ke Pati ? Ke rumah siapa ?’ tanya Si Bocah heran ketika kami memberitahu bahwa akhir minggu ini akan keluar kota lagi bersama-sama. Ayahnya menjelaskan bahwa harus mengunjungi teman di sana. Si Bocah mengangguk-angguk. ‘Nanti, aku juga akan bertemu teman baru lagi?’ Saya mengiyakan.
‘Naik apa?’
‘Kita naik KRL lalu naik kereta api ke Semarang disusul naik bus.’
‘Kita naik bajaj dulu baru naik kereta api tut tut tuuuut. Bunda lupa ya?’, potong Si Bocah. 

Wednesday, 31 August 2016

Tumbuh dan Nikmatilah, Tak Perlu Tergesa-gesa


Pagi ini saya membaca beberapa informasi menarik berkenaan dengan kegiatan anak-anak. Hm...ingin sekali ikut. Ada yang mengasah motorik kasar, kunjungan ke sebuah tempat, ikut klub, sampai ikut festival.

Ingin sekali bisa bergabung. Sayang usia minimal adalah 4 tahun dan Si Bocah masih 3 tahunan.
Meski sebenarnya secara kasat mata, Si Bocah ‘pantas’ menjadi anak usia 4 tahun. Postur fisik, kamampuan berbahasa, dan pemahamannya akan sebuah peraturan cukup bagus. Berbaur dengan anak-anak usia 4 tahunan tidak akan terlihat mencolok perbedaannya. Hehehehe...godaan sekali.

Wednesday, 24 August 2016

Terinspirasi Bukan Terintimidasi



Selamat pagi matahariku! Teriakan keras Si Bocah selepas bangun dan keluar dari tenda. Hujan semalam hanya menyisakan tetesan air di rumput. Langit biru meski matahari belum bersinar penuh. Hari kedua kami berkemah di Kampung Komunitas Salatiga.
Si Bocah sudah merengek minta berenang. Wuih...pukul 6 pagi ! Jelas Si Ayahn bimbang namun saya berhasil menyakinkan kalau airnya masih hangat. Jadilah pagi-pagi itu, saat banyak keluarga sudah rapi dan duduk makan pagi, kami masih njebeber bersama menemani Si Bocah.

Monday, 22 August 2016

Berkemah

Sejak melihat Barney edisi camping, keinginan berkemah Si Bocah muncul. Ingin melihat bintang dan tidur di tenda, katanya. Beberapa kali, dinosaurus baik yang sedang berkemah bersama teman-temannya itu dilihatnya. Sampai hafal apa hampir setiap adegan yang ada.
Ayahnya berencana membelikan tenda kecil dan berkemah di halaman saja. Nanti kalau hujan atau kondisi tidak memungkinkan, tinggal dipindah ke dalam rumah. Saya masih berpikir dan menimbang kapan dan bagaimana enaknya model berkemahnya sebab Si Bocah juga masih 3 tahun.
Kebetulan seorang teman komunitas memberikan info acara berkemah bersama Ibu Septi di Salatiga. Membaca rangkaian kegiatannya, saya suka. Huhuhuhu, menarik sekali. Bisa belajar hal lain tentang pengasuhan anak sekaligus bertemu dengan para ortu hebat yang memutuskan anaknya sekolah di rumah sekaligus (ini yang penting) memberi pengalaman Si Bocah berkemah – sesuatu yang diinginkan beberapa waktu ini - .

Friday, 19 August 2016

Cangkang Telur, Baking Soda dan Cuka

Pagi tadi, di dinding facebook saya ada postingan tentang percobaan sederhana yang bisa dilakukan anak usia 2-3 tahun menggunakan hanya baking soda dan cuka. Judulnya apple volcano experiment. Hm...menarik.
Saya tengok kedua bahan yang dibutuhkan ada meski tidak banyak di dapur. Untuk buah apel yang digunakan sebagai gunungnya, saya ganti dengan botol yakult bekas (karena apel lebih enak dijus hehehehe).
Si bocah cukup antusias mencoba ketika saya perlihatkan gambarnya di sini.

Friday, 12 August 2016

Ikut Ayah ke Situ Jatijajar

Salah satu kesepakatan kami sebagai ortu adalah  ada satu hari penuh ayah bersama dengan Si Bocah dalam seminggu. Bersama dalam artian sebenarnya. Bermain bebas, tidak ada gawai atau komputer atau printilan pekerjaan lainnya. Biasanya itu terjadi hari minggu. Seharian mereka akan melakukan apapun yang disukai sambil tertawa meski tak jarang diselingi rengekan atau tangisan Si Bocah karena diisengin ayahnya.
Tetapi ada saat-saat meski hari minggu, Ayah harus pergi. Bila aktivitasnya keluar kota, Si Bocah bersama saya di rumah. Namun, bila kegiatannnya memungkinkan mengajak Si Bocah, sering kami pergi bersama-sama.
Seperti beberapa saat yang lalu. Hari Minggu kami isi dengan berkunjung ke rumah seorang teman Ayah di daerah Situ Jatijajar. Menyenangkan. Menemukan tempat kami belajar dan menjelajah. Sebab, sekolah terbaik menurut kami adalah alam semesta dan isinya yang tidak dibatasi oleh dinding-dinding. Selain itu melihat Kota Depok dari sudut berbeda. Dengan aneka pohon dan keteduhannya. Kota ini memiliki banyak situ (danau) namun sayang banyak yang kurang terawat.

Sunday, 7 August 2016

Portofolio Si Bocah Bermain Warna (Balita)

Bila anak-anak belajar di institusi formal seperti sekolah, ketika ingin mengetahui perkembangannya, kita bisa memantau melalui anekdot yang disampaikan gurunya setiap 3 bulan sekali. Kemajuan atau kekurangan anak bisa terlihat melalui pengamatan gurunya saat mereka di sekolah. Kita tinggal mendengar dan mencocokannya dengan perilaku anak - anak di rumah. Bersama-sama mencari solusi bila diperlukan. 
Nah, persoalannya bagaimana untuk yang belajar di rumah ? Siapa yang membuat anekdot ? Ortu ? Yaiyalah, mau siapa lagi masak tetangga hehehehe.

Sulit dong ? Bisa dibilang sulit kalau kita menilainya melalui pengamatan biasa saja. Salah satu kesulitan yang sering dialami praktisi pendidikan rumah adalah melihat perkembangan anak secara jernih dari waktu ke waktu. Interaksi  24 jam sehari dalam satu minggu, membuat kita kerap kurang menyadari akan kemajuan apa yang telah dicapainya. Menganggap semua biasa – biasa saja, nothing special