Kamis, 21 Agustus 2014

Akhirnya Resign


Mengamati dan memotret anak. Itulah kegiatan yang saya lakukan akhir-akhir ini. Melihat gambar di atas sepertinya seru ya ? Yup, seru sekali meski juga lelah hehehehe. Si Bocahnya sedang dalam tahap aktif sebab baru menikmati senangnya bisa berjalan sendiri. Ada saja tempat yang ingin dijelajahi. Semua hal selalu menarik perhatiannya dan harus diteliti. Menilik aktifnya, kadang sampai frustasi juga mengikutinya (curhat boleh ya hihi).
Eh, tema tulisan saya berganti ya, yang biasanya bercerita tentang anak-anak di sekolah berubah ceritain tentang anak atau curhatan saya J. Yeah, sebabnya adalah sudah dua bulan ini saya meninggalkan kegiatan mengajar di sekolah. Meninggalkan aktivitas yang hampir 7 tahun saya jalani untuk beralih menjadi ibu rumah tangga total. Dan ternyata sungguh bukan kondisi yang mudah. Padahal saya berhentinya dengan kesadaran penuh demi perkembangan dan pertumbuhan Si Bocah, masih saja kerap kepikiran lebih asyik bekerja, dapat hahahihi dengan banyak orang, bergaji tiap bulan, kemana-mana mudah, jajan apapun juga ok, nonton bioskop juga ayo saja bersama teman-teman hahaha.
Itu jeleknya saya kali ya? Terbiasa pada kehidupan Surabaya yang semua-muanya tersedia. Sudah kerasan di zona nyaman. Makanya ketika pindah dan bermukim di wilayah yang sekarang, masuk wilayah Kediri Coret alias pinggiran nih, rasanya amboi sunyi nian. Beda sekali. Jangankan riuhnya jalanan yang macet, lampu jalan yang terang benderang pun sirna. Jam delapan malam adalah jam dimana semua lorong sudah sunyi tanpa orang berlalu lalang. Jangankan melihat orang kongkow di café, di warung kopi saja sepi (ramainya kalau ada siaran bola ada wayangan saja). Hm…gini mungkin ya yang dirasakan orang-orang yang keluar dari zona nyamannya.  
Apalagi ternyata (masih edisi curhat nih, boleh ya ?), saya mendapati kalau menjadi seorang ibu rumah tangga itu rasanya waw sekali. Bila kita sering dengar jadi IRT itu gampang, mudah, dan tanpa perlu pendidikan tinggi pula sebab hanya ngurus anak dan rumah, beda sekali dengan kalau bekerja kantoran, semua itu salaaaaaaaah besar. Maaf ya, saya nulis a-nya banyak, sebab ini untuk penekanan dan agar terlihat bahwa pernyataan diatas ngawur. IRT itu benar-benar luar biasa. Ingat tidak sebuah kata bijak ‘kalau kita mendidik satu wanita, besar kemungkinan satu generasi terdidik akan tercipta’ ? Itu kalimat benar sekali.
Bayangkan saja, seorang ibu ternyata memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan anak. Ibu yang bertugas membangun pondasi awal dari sebuah kebiasaan dari hidup si anak yang akan dibawanya sampai dewasa bahkan tua kelak. Contoh kecil saja dalam membangun pola makan. Duh…bicara tentang yang satu ini, saya sering miris dan prihatin sekali. Pola makan kebanyakan anak yang kerap saya lihat, baik murid-murid saya dulu ataupun anak-anak tetangga, kebanyakan salah kaprah. Ndak sehat sama sekali. Yang berekonomi mapan pun, tidak jarang anaknya cukup makan minim gizi alias yang dimakan makanan cepat saji /junk-food. Yang berekonomi sedang ke bawah, kerap agar kelihatan modern dan kekota-kotaan, makan makanan yang keliatan mirip seperti makanan cepat saji namun kw. Duh, apa ndak nelongso melihatnya ?
Itu satu hal penyemangat saya juga kalau sedang kangen suasana bekerja kantoran lagi daripada njemunuk nungguin anak. Ingat untuk saya tidak menjerumuskan Si Bocah menyukai makanan salah kaprah. Mengingat sungguh makanan yang dimakan Si Bocah adalah pondasi awal pola makan dia nanti sampai dewasa kelak sebab salah satu sumber penyakit itu asalnya juga dari makanan yang kita makan selama ini.
Hm…ok dah ! Untuk pemanasan awal menghidupkan blog secangkirkopi ini sepertinya cukup. Si Bocah masih tidur pagi namun baru ingat kalau botol susunya belum sempat disteril hehehe.





Sabtu, 11 Mei 2013

Antara Sains dan Pembentukan Karakter

kreativitas perlu ditunjang perilaku yang baik

Ah, lama sekali  blog secangkirkopi ini terbengkalai. Kerepotan baik di sekolah maupun kemalasan yang hadir tiba-tiba (maunya bermalas-malasan terus) saat hamil disusul melahirkan anak, membuat blog ini sempat merasa. Ah, sayang memang namun begitulah hidup. Kadang kita bersemangat sekali, kadang kita loyo atau putus harapan hehehehe.

Sebuah cara berkelit untuk langsung mengatakan kalau saya sedang malas menulis hehehehehe.

Namun entah mengapa, satu minggu terakhir sebelum masa cuti  selesai, tiba-tiba saya ingin kembali mengisi blog ini. Eh, bukan tiba-tiba ding…, orang semua pasti ada awal mula dan sebab musababnya hehehehe. Ngaco ya tulisannya, maaf baru pemanasan setelah vacuum sekian lama.

Minggu, 03 Februari 2013

Ah...Sudah Kebiasaannya, Wajar Kalau Bisa !

ketrampilan yang
semoga menjadi kebiasaan
‘Ah, dia kan bisa karena sudah biasa melakukannya. Wajar saja’. Kita mungkin pernah mendengar pernyataan seperti itu,  atau mungkin kita sendiri yang mengatakannya ketika mengkomentari akan kemampuan seseorang. Komentar yang kesannya bernada sirik ya ? hehehehehe. Tapi sudahlah, entah sirik atau senang itu hanya beda persepsi saja.

Lepas dari memang sudah menjadi kebiasaan, sebuah kebisaan itu bisa dikuasai selalu melalui jalan yang namanya proses. Yeah…proses. Kerap kali proses itu pun menyakitkan. Diperlukan kesabaran, ketlatenan, dan mungkin menahan rasa sakit untuk mencapai kebisaan yang akan menjadi kebiasaan itu.

Sabtu, 02 Februari 2013

Waw… it’s a Magic !

ekspresi bersemangat
Sorak anak-anak heboh sekali melihat magnet yang saya pegang menarik paper clip cukup banyak secara bersamaan. ‘Aku mau mencobanya juga ya,bu?’ pinta mereka. Kemudian, secara bergantian, mereka pun mencoba memegang magnet dan clip paper. Semua anak mencoba. Semua anak merasakan serunya saat magnet itu menarik benda-benda kecil dari logam tersebut. Semua anak pun belajar sains. Ya, sains. Mengenalkan sebab benda-benda bisa bergerak. Salah satunya menggunakan magnet.

Saya ingat akan serangkaian kata bijak ini ; saya dengar saya lupa, saya lihat saya ingat, saya melakukan dan saya mengerti.

Minggu, 25 November 2012

Seri Belajar Bahasa (part 1)

membaca memperkaya kosakata
‘Ha…aku tahu kata yang huruf depannya c. Ciyus ! benar tidak, Bu ?’kata seorang murid dengan penuh semangat. Terlihat senang saat berhasil menemukan satu kata yang saya minta. Nah lo…kalau sudah seperti ini bagaimana ?Mau dibenarkan atau disalahkan ? Dibenarkan, jelas-jelas itu bukan bahasa Indonesia yang benar, kalau mau disalahkan, hampir setiap hari kata itu muncul sebagai iklan di stasiun televisi.

Cukup prihatin sebenarnya melihat kondisi kebahasaan di saat-saat sekarang ini pada anak-anak. Bukan salah mereka sebenarnya bila kemudian mengenal bahasa-bahasa ‘aneh’ yang ‘gaul’ seperti ini sebab memang di masyarakat kita, bahasa inilah yang berkembang dan populer.