Wednesday, 24 August 2016

Terinspirasi Bukan Terintimidasi



Selamat pagi matahariku! Teriakan keras Si Bocah selepas bangun dan keluar dari tenda. Hujan semalam hanya menyisakan tetesan air di rumput. Langit biru meski matahari belum bersinar penuh. Hari kedua kami berkemah di Kampung Komunitas Salatiga.
Si Bocah sudah merengek minta berenang. Wuih...pukul 6 pagi ! Jelas Si Ayahn bimbang namun saya berhasil menyakinkan kalau airnya masih hangat. Jadilah pagi-pagi itu, saat banyak keluarga sudah rapi dan duduk makan pagi, kami masih njebeber bersama menemani Si Bocah.

Monday, 22 August 2016

Berkemah

Sejak melihat Barney edisi camping, keinginan berkemah Si Bocah muncul. Ingin melihat bintang dan tidur di tenda, katanya. Beberapa kali, dinosaurus baik yang sedang berkemah bersama teman-temannya itu dilihatnya. Sampai hafal apa hampir setiap adegan yang ada.
Ayahnya berencana membelikan tenda kecil dan berkemah di halaman saja. Nanti kalau hujan atau kondisi tidak memungkinkan, tinggal dipindah ke dalam rumah. Saya masih berpikir dan menimbang kapan dan bagaimana enaknya model berkemahnya sebab Si Bocah juga masih 3 tahun.
Kebetulan seorang teman komunitas memberikan info acara berkemah bersama Ibu Septi di Salatiga. Membaca rangkaian kegiatannya, saya suka. Huhuhuhu, menarik sekali. Bisa belajar hal lain tentang pengasuhan anak sekaligus bertemu dengan para ortu hebat yang memutuskan anaknya sekolah di rumah sekaligus (ini yang penting) memberi pengalaman Si Bocah berkemah – sesuatu yang diinginkan beberapa waktu ini - .

Friday, 19 August 2016

Cangkang Telur, Baking Soda dan Cuka

Pagi tadi, di dinding facebook saya ada postingan tentang percobaan sederhana yang bisa dilakukan anak usia 2-3 tahun menggunakan hanya baking soda dan cuka. Judulnya apple volcano experiment. Hm...menarik.
Saya tengok kedua bahan yang dibutuhkan ada meski tidak banyak di dapur. Untuk buah apel yang digunakan sebagai gunungnya, saya ganti dengan botol yakult bekas (karena apel lebih enak dijus hehehehe).
Si bocah cukup antusias mencoba ketika saya perlihatkan gambarnya di sini.

Friday, 12 August 2016

Ikut Ayah ke Situ Jatijajar

Salah satu kesepakatan kami sebagai ortu adalah  ada satu hari penuh ayah bersama dengan Si Bocah dalam seminggu. Bersama dalam artian sebenarnya. Bermain bebas, tidak ada gawai atau komputer atau printilan pekerjaan lainnya. Biasanya itu terjadi hari minggu. Seharian mereka akan melakukan apapun yang disukai sambil tertawa meski tak jarang diselingi rengekan atau tangisan Si Bocah karena diisengin ayahnya.
Tetapi ada saat-saat meski hari minggu, Ayah harus pergi. Bila aktivitasnya keluar kota, Si Bocah bersama saya di rumah. Namun, bila kegiatannnya memungkinkan mengajak Si Bocah, sering kami pergi bersama-sama.
Seperti beberapa saat yang lalu. Hari Minggu kami isi dengan berkunjung ke rumah seorang teman Ayah di daerah Situ Jatijajar. Menyenangkan. Menemukan tempat kami belajar dan menjelajah. Sebab, sekolah terbaik menurut kami adalah alam semesta dan isinya yang tidak dibatasi oleh dinding-dinding. Selain itu melihat Kota Depok dari sudut berbeda. Dengan aneka pohon dan keteduhannya. Kota ini memiliki banyak situ (danau) namun sayang banyak yang kurang terawat.

Sunday, 7 August 2016

Portofolio Si Bocah Bermain Warna (Balita)

Bila anak-anak belajar di institusi formal seperti sekolah, ketika ingin mengetahui perkembangannya, kita bisa memantau melalui anekdot yang disampaikan gurunya setiap 3 bulan sekali. Kemajuan atau kekurangan anak bisa terlihat melalui pengamatan gurunya saat mereka di sekolah. Kita tinggal mendengar dan mencocokannya dengan perilaku anak - anak di rumah. Bersama-sama mencari solusi bila diperlukan. 
Nah, persoalannya bagaimana untuk yang belajar di rumah ? Siapa yang membuat anekdot ? Ortu ? Yaiyalah, mau siapa lagi masak tetangga hehehehe.

Sulit dong ? Bisa dibilang sulit kalau kita menilainya melalui pengamatan biasa saja. Salah satu kesulitan yang sering dialami praktisi pendidikan rumah adalah melihat perkembangan anak secara jernih dari waktu ke waktu. Interaksi  24 jam sehari dalam satu minggu, membuat kita kerap kurang menyadari akan kemajuan apa yang telah dicapainya. Menganggap semua biasa – biasa saja, nothing special