Selasa, 09 Februari 2016

Tentang Pola Makan

Di dinding facebook saya sedang sering terlihat gambar ini. Seorang batita dengan wajah lucu sedang makan pisang di atas troli. Buah gratis yang diperuntukkan untuk anak-anak usia 12 tahun ke bawah yang sedang menunggui ortunya belanja. Menarik sekaligus cerdas ide pengelola pusat perbelanjaannya. Selain membuat nyaman ortu yang sedang berbelanja, juga menanamkan akan sesuatu yang positif di anak-anak. Kegemaran makan buah. Suka sekali dengan ide ini. Ide pemasaran yang dikemas dengan menarik sekaligus mendidik.

Senin, 01 Februari 2016

Bahasa

Kemampuan berbahasa pada anak bukanlah bawaan lahir. Kemampuan berbahasa mereka pelajari dari lingkungan sekitar dan orang-orang terdekatnya. Apa yang mereka dengar dan terima, maka itulah yang ia praktikan.

Dulu, saat masih di lembaga pendidikan formal, saya memiliki seorang anak didik yang sulit sekali berbicara dengan jelas. Banyak kesalahan pelafalan yang diucapkan. Kosakatanya pun terbatas. Lebih sering menunjuk bila menginginkan sesuatu. Untuk warna pun, dia hanya mengenal oranye dan hitam. Semua benda bagi dia warnanya oranye dan hitam. Usianya hampir 7 tahun.

Sabtu, 09 Januari 2016

Menjadi Ibu Warna Warni

Pelangi, pelangi alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan ?
Pelangi, pelangi ciptaan Tuhan

Hore ! Teriak Si Bocah sambil bertepuk tangan. Kebiasaannya setiap usai bernyanyi. Si bocah memang sedang suka dengan semua yang bernuansa pelangi. Lagu pelangi versi banyak bahasa, rainbow cake, atau apapun yang warnanya lebih dari tiga. “Bagus ya,Nda. Berwarna-warni seperti pelangi”, komentarnya selalu bila melihat sesuatu yang mengandung unsur banyak warna. Ah, Si Bocah yang belum genap tiga tahun namun sering membuat saya belajar banyak hal darinya.

Senin, 04 Januari 2016

The Freedom to Fail

Prang! Suara gelas jatuh membuat saya menoleh. Faiz, teman Si Bocah terlihat takut dan mau menangis. “Tidak apa-apa, Mas Faiz”, kata Si Bocah. Faiz melihat saya takut-takut. Saya mengangguk menegaskan sambil tersenyum. “Tidak dimarahi ?” tanyanya polos. “Tidak, Mas Faiz. Kalau gelas jatuh berarti segera ambil pel buat mengelap airnya”, Si Bocah menjawab sambil bawa kain pel. Faiz masih terlihat bingung namun tak jadi menangis dan kemudian ikut mengelap air yang tumpah juga.

Melihat ekspresi Faiz yang ketakutan dan seakan mau lari tadi bisa saya tebak bagaimana reaksi para orang dewasa di sekitarnya saat dia melakukan kesalahan. 

Rabu, 30 Desember 2015

Belajar Menjadi Ortu, Belajar Menekuk Ego

Mengandung kemudian melahirkan anak memang membuat saya otomatis menjadi seorang ibu sekaligus ortu bagi seorang bocah. Di atas selembar kertas. Membahagiakan memang dipercaya Tuhan dititipi seorang bocah. Bahagia dan bangga. Meski, kerap terselip kekhawatiran akankah bisa menjadi ortu pendidik yang baik bagi si bocah.
Buat saya, ortu adalah sebuah status yang luar biasa. Ortu. Tidak selalu ayah ibu biologis kita. Namun, orang-orang yang dengan penuh kasih mendidik, merawat, sekaligus membesarkan kita pun adalah ortu.